5 Masjid Sejarah di Palembang Yang menarik Untuk Di Bahas

Kota Palembang adalah ibu kota provinsi sumatra selatan. Palembang termasuk kota terbesar kedua di pulau sumatra setelah kota medan. Kota pempek ini tidak hanya di kenal dengan kuliner khas makanannya, akan tetapi memiliki beberapa peninggalan yang bersejarah yang menarik untuk kita bahas, misalnya gedung-gedung, prasasti kedukan bukit, serta bangunan masjid yang sudah berdiri sejak beratusan abad yang lalu.

Berdasarkan sejarahnya, islam sendiri masuk ke Palembang sekitar pada awal abad ke-8 masehi. lalu sampai abad ke-14, islam di kota Palembang tumbuh dan berkembang sangat pesat, terlebih di masa pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam.

Jadi tidak heran yaa, bahwa masjid yang memiliki cerita bersejarah yang masih tetap berdiri dengan kokoh di sejumlah perkotaan Palembang.

Berikut ini beberapa ulasan dari saya mengenai 5 masjid bersejarah di Kota Palembang

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II

Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II

Masjid ini berada di tengah Kota Palembang dan merupakan masjid yang terbesar di Palembang . Berdasarkan informasinya, bahwa Bangunan masjid ini sudah mengalami beberapa kali renovasi/ perbaikan, khususnya pada tahun 2000. Dilihat dari segi bentuknya, Masjid Agung Palembang mempunyai ciri khas perpaduan dari tiga kebudayaan, yakni kebudayaan Indonesia,Tiongkok dan Eropa.

Tiga ciri kebudayaan tersebut merekat dalam setiap lekuk bangunan masjid. contohnya saja seperti pintu bagian utama masjid yang menunjukkan adanya pengaruh dari kebudayaan Eropa. di bagian atap masjid, bisa kita lihat adanya pengaruh Tiongkok mengingat bentuknya yang menyerupai bentuk kelenteng.
Masjid Agung Palembang merupakan salah satu peninggalan sultan. Maka berdasarkan Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia MA/233/2003 pada tanggal 23 Juli 2003, masjid itu ditetapkan sebagai salah satu masjid nasional.

Masjid Sultan Agung

Masjid Sultan Agung Palembang

Berdasarkan sejarahnya, masjid ini di bangun pada 1950, Masjid Sultan Agung dikenal sebagai masjid tertua kelima di Palembang. Masjid yang berdiri di lahan seluas kurang lebih 1.500 meter persegi ini dibangun oleh sesepuh Ki Abunawar dan warga setempat dengan menggunakan dana swadaya.
Ternyata loh, Pada area masjid ini juga terdapat makam dari Sultan Agung Komarudin Sri Teruno, yakni sultan Palembang yang sempat menjabat sekitar tahun 1714-1724. Kondisi makamnya pun cukup rapi dan bersih karena pengurus rutin melakukan perawatan. Pasalnya, pengunjung masjid cukup banyak, baik dari kalangan warga di Palembang, maupun wisatawan luar daerah.


Selain memiliki daya tarik , Masjid Sultan Agung juga cukup sering mengadakan berbagai aktivitas keagamaan di luar salat berjamaah, seperti , dakwah Islam, pengajian rutin berbagai acara hari besar Islam, hingga mendirikan pusat kegiatan belajar masyarakat, TPA, dan madrasah.
Masjid ini terletak di Jalan Sultan Agung, Kelurahan 1 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, Palembang.

Masjid Suro Palembang

Masjid ini berlokasi di Kelurahan 30 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II. Masjid Suro Palembang atau sering di kenal dengan sebutan Masjid Suro atau Al-Mahmudiyah (istimewa)
Meski usianya sudah lebih dari satu abad, bangunan masjid ini masih terlihat tampak kuat .

Menurut sejarahnya, Masjid Suro pertama kali didirikan pada 1889 oleh seorang toko ulama yaitu KH Abdurrahman Delamat dan baru selesai pada 1891. Selain itu, untuk melaksanakan ibadah, saat itu Masjid Suro juga digunakan sebagai lembaga pendidikan karena masyarakat memiliki minat yang cukup besar untuk mendalami ilmu agama. Melihat hal tersebut, penjajah Belanda pada saat itu khawatir jika kegiatan keagamaan berkembang menjadi upaya perlawanan.
Akhirnya, pemerintah Belanda menghentikan aktivitas tersebut. Meski begitu, Kiai Delamat tetap bersikukuh menyampaikan dakwahnya untuk masyarakat setempat.

Hal tersebut membuat Kiai Delamat diperintahkan untuk meninggalkan Kota Palembang karena dianggap membahayakan pemerintah belanda. Kiai Delamat pun pindah ke Dusun Sarika dan tinggal di sana hingga beliau wafat dan makamnya yang terdapat di area Masjid Suro bisa dikunjungi. Sejak ditinggalkan Kiai Delamat, kegiatan di Masjid Suro pun berkurang drastis. Hingga akhirnya terjadi pembongkaran oleh pemerintah Belanda. Hal tersebut juga diikuti dengan larangan aktivitas ibadah di sana.

Setelah kejadian tersebut, Masjid Suro kembali berfungsi saat kepengurusan diserahkan kepada Kiai Khotib. Setelah beliau meninggal pada 1919, para pemuka agama dan masyarakat setempat pun membentuk kepengurusan baru. Sejak tahun 1920, Masjid Suro akhirnya mulai kembali didirikan sedikit demi sedikit.
Demi mempertahankannya , tiang penyangga masjid bermaterial kayu berbentuk bulat tinggi tidak diubah. Selain tiang penyangga, komponen lain yang juga sudah berusia cukup tua dan menjadi saksi sejarah Masjid Suro adalah kolam tempat berwudu, mimbar, , beduk, dan makam Kiai Delamat.

Masjid Lawang Kidul Palembang

masjid lawang kidul Palembang

Masjid lawang kidul Palembang termasuk salah satu masjid berikut yang memegang peran penting dalam perkembangan Islam di Indonesia adalah Masjid Lawang Kidul. Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, masjid yang terletak di Lawang Kidul, Kecamatan Ilir Timur II, ini menjadi pintu selatan berkembangnya agama Islam. Bahkan, Masjid Lawang Kidul juga dijadikan sebagai markas para pejuang setempat saat menghadapi Belanda.
Masyarakat setempat juga menganggap Masjid Lawang Kidul sebagai kebanggaan tersendiri karena bangunan masjid yang sebagian besar masih terjaga keasliannya. Jika datang ke sini, pengunjung bahkan bisa melihat satu unit mimbar yang masih kokoh seperti kondisi saat pertama berdiri pada tahun 1890. Mimbar ini terbuat dari kayu dengan aksen desain bunga yang kental dengan budaya Melayu.
Setidaknya ada beberapa hal yang membuat Masjid Lawang Kidul begitu spesial dan mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat setempat. Salah satunya, menara masjid berupa tiga undakan dan atapnya yang melebar dengan desain arsitektur khas Tiongkok. Setidaknya, 99 persen bagiannya belum ada yang diganti, hanya saja pernah dilakukan penambahan keramik di bagian utama lantai.
Dengan berbagai kisah sejarah dan arsitektur khasnya tersebut, tidak mengherankan jika Masjid Lawang Kidul menjadi salah satu destinasi wisata religi yang cukup populer di Palembang.

Masjid Ki Marogan Palembang

Masjid Ki Marogan Palembang

Masjid Ki Marogan berlokasi di Jalan Kiai Marogan, Kelurahan I Ulu, Kertapati. Ki Marogan sendiri adalah seorang kiai yang terkenal di kalangan masyarakat Palembang. Beliau juga yang berperan besar dalam sejarah berdirinya masjid ini.
Pada 1871, Ki Marogan membangun masjid di titik pertemuan antara Sungai Ogan dan Sungai Musi. Awalnya, masjid ini diberi nama Masjid Jami Kiai Abdul Hamid bin Mahmud. Lama-kelamaan, masyarakat setempat lebih sering menyebutnya dengan Masjid Kiai Muara Ogan. Seiring berjalannya waktu, penyebutan Muara Ogan tersebut berubah menjadi Marogan. Baca selengkapnya: Objek Wisata Religi masjid kiai marogan palembang

Bagikan